Selasa, 03 November 2009

Sebutir Kurma Penjegal Doa

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsha. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat Masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsha.

4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsha. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara' yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.

"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram," jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.

"4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya Ibrahim.

"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.

"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?". Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. "Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".

"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."

"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim. 4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra.

Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. "Itulah ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain."

"Oh, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."

Oleh sebab itu berhati-hatilah dengan makanan yang masuk ke tubuh kita, sudah halalkah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu...

Belajar dari Doa-Doa

Berapa lama manusia mampu bermimpi dalam tidurnya ? Konon, jawabannya, manusia mampu bermimpi dalam tidurnya tidak lebih dari delapan detik saja. Bahkan ketika mimpi itu kita rasakan demikian lama. Ini karena perbedaan sistem waktu yang kita miliki, antara waktu saat kita terjaga dan waktu saat kita tertidur. Keduanya memiliki sistem waktu yang berbeda.

Manusia akan melewati empat alam. Alam rahim, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. Sistem waktu diantara alam ini, masing-masing berbeda. Bagaimana rasanya, orang yang telah meninggal dunia beribu tahun lalu ?

Rasulullah saw pernah berdoa mengajarkan kita doa sebelum tidur. Allahumma Inni Aslamtu Ilaika (Ya Allah kuserahkan jiwaku kepada Mu). Wawajahtu Ilaik (Dan kuhadapkan wajahku kepada Mu). Waalja’tu Dzohri Ilaika (Dan kusandarkan punggungku kepada Mu). Amantu Bikitabikalladzi Anzalta (Aku beriman kepada kitab yang diturunkan). Wabirasulikalladzi Anzalta (Dan kepada rasul Mu yang telah diutus).

Semua doa di atas, sama persis seperti proses kematian yang akan dijalani oleh manusia. Berserah diri, lalu menghadap ke arah kiblat, karena itu, usahakan ketika tidur menghadap ke arah kiblat. Kemudian kita diminta untuk mengucapkan statement of believe, rukun Iman kita. Baru setelah itu, kita membaca syahadat.

Dalam doa sebelum makan, Rasulullah saw kembali mengajarkan doa tentang keberadaan dan kehadiran Allah. Allahumma bariklana fima razaktana waqina adzabannar. Kita mengatakan bahwa apa yang kita makan ini, bukan dari apa yang kita usahakan, tapi semata-mata rezeki dari Allah. Semua berasal dari Allah dan kita kembalikan kepada Allah.

Rasulullah saw juga mengajarkan kepada kita agar berdoa ketika memasuki WC. Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari kejahatan dan dari sumber kejahatan. Kenapa kita harus berdoa ketika memasuki WC ? Sebab, di tempat itulah setan berumah tangga. Waktu kita berada di dalamnya, berbagai ide kadang muncul dan datang. Dan bisa jadi, sumber ide dan gagasan itu datang dari yang punya rumah, setan.

Di semua momentum, Allah mengajarkan kita agar melihat segala peristiwa dari sudut pandang Allah. Doa-doa itu mengajarkan kita agar kita memandang melalui persepsi Allah.

Saat kita memandang yang indah-indah, kita mengucapkan Subhanallah. Saat kita mendapatkan rezeki kita mengucapkan Alhamdulillah. Semua ini membuat kita memiliki standing position yang jelas. Kita juga mempunyai persepsi yang jelas terhadap segala sesuatu dalam kehidupan kita. Jika kita sudah merasa sudah bersama Allah, ini adalah salah satu cara pendendalian diri yang sangat kuat dalam diri manusia.

Syekh Ahmad Thantawi pernah menulis buku yang sangat menarik berjudul Sehari Bersama Setan. Ia bercerita dalam buku, ia sedang mempersiapkan khutbah Jumat. Ia sedang membersihkan diri.

Satu waktu ia bercerita, ia sedang naik bus. Di tengah jalan, naik seorang perempuan yang duduk tepat di sampingnya. Perempuan yang sangat cantik. Pandangan pertama adalah rezeki bagimu, sedang pandangan yang kedua dosa untukmu. Ketika melihat pertama kali, ia terpana. Yang kedua, matanya ingin melirik ke arah perempuan ini, tapi ia berusaha menahannya.

Tapi kesadarannya dalam menahan pandangan mata itu tidak terlalu konsisten. Ketika jalan, ingatannya hilang sebentar, tiba-tiba matanya melirik. Dan Allah mengetahui pengkhianatan mata. Meski hatinya tak mau. Dan apa yang disembunyikan oleh hati. Dampak yang paling kuat dari rasa kebersamaan dengan Allah adalah, kita mampu mengontrol motif-motif kita dalam berbuat. Meskipun motif tersebut tidak nampak untuk orang lain.

Allah berfirman dalam salah satu ayatNya, ”Ingatkah kalian Kami beritahu tentang orang-orang yang merugi dalam amal-amalnya. Yaitu orang-orang yang usahanya sesat (rusak) di dunia, tapi mereka menduga bahwa mereka sudah melakukan kebaikan...” (Al Kahfi [18] : 103-104).
Mereka berfikir, mereka sudah berkarya. Padahal amal mereka hancur karena ketidakmampuannya mengontrol motif-motif yang berada di balik perbuatan. Buku yang kita tulis atau makalah yang kita susun, bisa berbuah pahala untuk orang lain, tapi bisa berbuah petaka untuk diri kita sendiri. Karena, sekali lagi, ketidakmampuan kita mengontrol motif perbuatan yang kita lakukan.

Kontrol atas motif ini, harus membantu kita memastikan, bahwa dalam segala hal, tujuan kita hanya satu. Allah semata.

Dalam sebuah pertempuran, Ali bin Abi Thalib ra bertarung dengan salah seorang lawannya. Dalam sejarahnya Ali bin Abi Thalib ra tidak memiliki sejarah kekalahan. Semua ia menangkan. Suatu ketika, ia telah mengalahkan seorang musyrikin dan tinggal dipenggal saja kepalanya. Tapi sang calon korban, tiba-tiba meludahi wajah Ali bin Abi Thalib ra. Dan Ali merasa tersinggung karenanya. Akhirnya, musyrikin tadi tidak jadi dibunuh, sebab Ali sadar betul bahwa motifnya telah bergeser sedikit. Bukan lagi sepenuhnya karena Allah, tapi terselip rasa ketersinggungan pribadi di dalam hatinya.

Sekali lagi, kita disuguhi pertunjukan tentang pengendalian motif diri yang begitu kuat dalam sejarah Islam. Karena sesungguhnya, pengendalian diri atas segala motiflah yang menentukan akhir manusia : rugi atau untung ?

Senin, 02 November 2009

Memperbaiki Gaya Hidup

Dokter-dokter di Eropa dan Amerika berlomba-lomba menemukan cara agar manusia bisa makan sebanyak-banyaknya, tapi tetap langsing badannya. Karena itu di televisi-televisi Eropa dan Amerika, iklan paling banyak didominasi oleh dua jenis iklan; iklan makanan dan iklan obat pelangsing.

Rasulullah saw memiliki tiga resep utama untuk keselamatan dan kesehatan manusia di dunia. Resep pertama, kami adalah kaum yang tidak makan kecuali ketika kami lapar. Resep kedua, ketika kami makan maka kami akan berhenti sebelum kenyang. Resep ketiga, perbanyaklah puasa. Resep keempat, Rasulullah tidak pernah tidak sibuk beraktivitas, terutama melakukan persiapan perang.

Di sini kita mempelajari tentang timing, kita tidak makan sebelum lapar. Lalu kita mempelajari portion, kita berhenti sebelum kenyang. Dan kalau kita rajin berpuasa sunnah termasuk puasa ramadhan, maka jumlahnya sama seperti kita berpuasa setengah dari jumlah hari dalam satu tahun. Dan terakhir, olahraga. Kenapa dipakai contoh perang. Karena perang merupakan satu kegiatan dengan kombinasi dari beberapa aktivitas. Dalam perang, pasti ada lari. Dalam perang, pasti ada angkat beban. Dalam perang, pasti ada tekanan-tekanan psikologis yang besar.

Jika kita peras-peras, sesungguhnya manusia itu hanya memiliki dua jenis penyakit yang dideritanya. Pertama, sakit fisik, seperti patah tulang, dan yang semacamnya, jenis ini mudah diobati. Kedua, sakit keseimbangan. Misalnya, penyakit jantung. Ini adalah akumulasi dari kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat dalam jangka yang sangat panjang. Sakit ginjal, kanker, stroke, semua jenis penyakit ini adalah akumulasi gaya hidup.

Ini yang tidak terjadi dalam masa Rasulullah dan sahabat. Para sahabat, usianya delapan puluh tahun, tapi masih sanggup menikahi gadis belasan tahun. Karena stamina mereka prima. Karena hidup penuh keseimbangan yang mereka jalankan sebagai gaya hidupnya.

Kita, akibat gaya hidup yang salah, sedikit demi sedikit nikmat kehidupan dunia dicabut dari kita. Umur kita masih sangat muda, tapi kita sudah dilarang makan enak. Ini semua, sesungguhnya adalah penyempitan rahmat, tapi kita menyebutnya sebagai penyempitan pembuluh darah.

Setelah makanan, yang perlu kita perhatikan lagi adalah pakaian kita. Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa pakaian itu adalah gambaran suasana jiwa. Dan suasana jiwa kita, juga dipengaruhi oleh warna pakaian yang kita pakai. Jangan pakai pakaian dengan warna-warna semu, pakailah warna-warna yang cerah.

Sebab penampilan kita juga turut menentukan siapa diri kita. Ada yang mengatakan, meminta-minta dengan penampilan, lebih kuat daripada meminta-minta dengan perkataan dan perbuatan. Pakaian yang disunnahkan Rasulullah saw, adalah warna putih, cerah, khususnya hari Jumat, supaya suasana jiwa kita juga cerah.

Kalau kita ingin lebih detail mencermati tentang kesehatan, banyak sekali hadits-hadits tentang kesehatan. Dan ternyata, dari banyaknya hadits-hadits tersebut, sebagian besar berbicara tentang mulut. Satu ajaran hadits jika kita ikuti akan memberikan kebaikan kepada pengikutnya.

Tarbiyah dan Ukhuwah adalah Jantung Dakwah

Yang dimaksud dengan tarbiyah adalah, bagaimana kita berubah. Bertambah baik setiap hari. Tarbiyah itu seperti kita sedang melakukan renovasi pada sebuah bangunan. Kadang kita tidak perlu merobohkan bangunan-bangunan tertentu, karena memang sudah jadi dan memiliki karakter, hanya tinggal sentuhan akhir agar tampil lebih indah. Ada yang fondasinya sudah bagus, tapi kurang tembok dan tiangnya.

Dan tarbiyah yang bagus akan menghasilkan ukhuwah yang bagus pula. Ukhuwah itu adalah jalinan perasaan, tapi ujungnya adalah jaringan. Awalnya adalah perasaan yang bebas polusi duniawi. Dan ujungnya adalah jaringan yang berorientasi menegakkan kalimat Allah swt. Membangun ukhuwah di tingkat perasaan itu sangatlah tidak mudah. Ada satu kaidah yang bisa kita pegang dalam membangun ukhuwah. Sepanjang tidak ada kepentingan duniawi yang dekat, pada umumnya ukhuwah yang indah bisa dibangun di atasnya. Tapi ketika sudah ada friksi kepentingan, ukhuwah akan mudah rusak di atasnya.

Karena itu dalam banyak sejarah pergerakan kaum muslimin, ukhuwah mereka utuh ketika mereka masih banyak yang menjadi fuqara’ wal masakin. Tapi ketika taraf kehidupan mereka meningkat, konflik-konflik mulai muncul. Dalam sirah perjalanan Rasulullah saw, awal-awal terjadi konflik dalam tubuh umat Islam terjadi setelah kemenangan Perang Badar. Karena ada banyak harta rampasan perang dan faktor dunia yang mulai muncul ke permukaan.

Tapi ketika mampu dengan baik membangun ukhuwah, maka kita akan menyaksikan sistem pertahanan umat untuk melakukan perlawanan pada setiap bahaya yang mengancam. Sebagian besar dari umat ini, pertengkarannya dipicu masalah-masalah perut.

Ketika satu amal usaha dimulai dengan keikhlasan, insya Allah, sangat banyak yang bisa kita lakukan selanjutnya. Menggalang potensi yang begitu luas. Menggabungkan begitu banyak kekuatan. Tapi dakwah ini juga di dalamnya berlaku proses seleksi alam. Bukan berarti yang gagal sekarang lalu tidak bersama kafilah dakwah, tidak demikian. Mungkin hanya pindah gerbong saja. Tapi dakwah yang kita lakukan memerlukan istiqamah, kesabaran, karena semakin hari beban tambahan yang akan kita terima sebagai agen-agen dakwah akan semakin berat, bukan bertambah ringan. Dan itu masih ditambah dengan beban-beban harian, di kantor, keluarga dan beban sosial lainnya.

Maka bersabarlah. Sebab dakwah seperti lari marathon. Napas panjang selalu diperlukan. Dan jangan sampai kehabisan napas di tengah jalan. Jalan dakwah seperti ini seperti tetesan air, dia akan menembus dan membelah batu, tapi butuh waktu yang tidak sebentar. Tapi jika tetes-tetes ini digabung menjadi satu, dia akan menjadi arus. Dan itulah yang diperlukan oleh dakwah. Begitu dia menjadi arus, dia akan menghanyutkan. Begitulah amal ukhuwah. Seperti menggabungkan huruf yang terpisah-pisah agar menjadi satu dan bisa terbaca.

Pengorbanan Yang Menentukan Kemenangan

Pengorbanan menentukan kemenangan. Itulah sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan manusia. Itulah makna pengorbanan. Karenanya, ciri utama dari sebuah usaha yang dimulai dengan pengorbanan adalah pertumbuhan yang tiada putus dan tidak berhenti. Sebesar apa pengorbanan yang kita berikan untuk ideologi yang kita yakini, sebesar itu pula pertumbuhan akan berkelanjutan.

100 ribu orang yang masuk Islam di zaman Rasulullah saw pada saat Haji Wada, sebagian besar adalah orang awam. Bahkan ada yang tak tahu di mana letaknya tempat pipis, sampai ada diantara mereka yang buang air di masjid. Tapi gabungan amal usaha dari orang-orang ini yang sampai sekarang terus bertumbuh.

Kita semua saat ini belajar fiqih, di pesantren sampai perguruan tinggi, sesungguhnya kita mempelajari sejarah orang-orang ini. Setiap satu amal usaha, pengorbanan itulah yang menentukan umur dari amal usaha tersebut.

Jika kita ingin menulis sebuah buku, atau sebuah makalah sekalipun, lalu buku tersebut menembus waktu, menembus ruang, menembus pikiran, menembus hati, hal tersebut sangat ditentukan berapa banyak arti yang kita berikan pada kata-kata yang kita muat dalam tulisan tersebut. Begitu juga ketika kita berceramah, bekerja dan apapun namanya sebuah amal usaha.

Karenanya, makin banyak kita menerima hasil dari usaha kita, biasanya makin pendek umur dari usaha tersebut. Sebut saja, seseorang yang terlalu cepat popular, biasanya tak lama popularitasnya. Cepat kaya, biasanya tak lama kekayaannya mampu bertahan. Semua yang terlalu cepat, biasanya tak terlalu lama daya tahannya.

Sejarah nabi-nabi, adalah sejarah tentang kerja besar di tengah penderitaan besar. Terus seperti itu kisahnya. Jadi, ketika Umar bin Khattab mendapati semua peperangan yang diikutinya menang, semua rencana yang dirancangnya berhasil, kekayaan datang luar biasa banyaknya. Apa yang dipikirkan Umar bin Khattab ?

“Kalau ini adalah sebuah kebaikan, kenapa kebaikan ini tidak datang pada zaman Rasulullah atau Abu Bakar ? Kenapa ini datang di zaman saya ? Jangan-jangan Allah ingin memisahkan saya dengan kedua sahabat saya itu ?” Umar bertanya-tanya dalam hatinya. Sebab, ia tahu betul tentang takdir kerja besar dan derita besar yang ditanggung dua pendahulunya.

Pengorbanan adalah menguak rahasia tentang amal usaha yang terus bertumbuh dan tidak berhenti pertumbuhannya. Lewat pengorbanan, kita juga belajar tentang amal usaha yang berumur pendek dan berhenti di tengah jalan.

Jika kita mempelajari sejarah sebuah organisasi seperti Muhammadiyah, para pendiri awalnya, adalah orang-orang yang penuh dengan pengorbanan. Begitu juga dengan sejarah Nahdhatul Ulama (NU), sejarahnya dipenuhi dengan nama-nama yang penuh pengorbanan.

Hakikat dari pengorbanan adalah ujian, seyakin apa kita pada keyakinan yang kita yakini, sehingga melahirkan pengorbanan yang memang menjadi syarat kemenangan. Seberapa siap kita berkorban untuk hal-hal yang kita yakini dalam hidup ini ?

Ibnu Taimiyah, menulis ratusan buku selama hidupnya. Suatu kali, ia berkata pada dirinya sendiri. “Apa yang bisa dilakukan musuhku kepada diriku ? Kalau dia penjarakan saya, maka saya punya kesempatan berkhalwat dengan Allah swt. Kalau dia mengasingkan saya, buat saya itu adalah rekreasi mengagumi keindahan ciptaan Allah. Kalau dia membunuh saya, dia hanya akan mempercepat pertemuan saya dengan Sang Maha Kekasih.” Tidak ada matinya.

Cerita ini tidak selesai sampai di sini. Ketika orang-orang berpikir, bahwa pemimpin ideologi terbunuh maka akan terbunuh pula pemikirannya. Adalah salah besar. Sama sekali tidak begitu jalan ceritanya.

Cara belajar manusia sangatlah verbal dan bersifat visual. Allah tahu betul hal ini, karena Dia yang menciptakan manusia. Karena itu, di dalam Al Qur’an, meski cerita nabi-nabi itu dipenuhi dengan penderitaan yang besar, cerita selalu ditutup secara happy ending.

Mula-mula cerita tentang Nabi Nuh as. Begitu repot ia berdakwah, ke sana ke mari, tapi istrinya tak bisa ia ajak ke jalan yang benar. Begitu juga anak-anaknya. Bahkan sampai akhir, yang selamat hanya 12 orang. Tapi faktanya, semua musuh-musuhnya dibinasakan. Begitu juga dengan cerita Nabi Musa, dari upaya pembantaian ke istana Fir’aun. Begitu juga Nabi Yusuf, dari sumur yang dalam ke istana raja. Maka begitu juga dengan Nabi Muhammad saw.

Tapi ada satu cerita dalam Al Qur’an yang tidak happy ending. Dan itu adalah cerita tentang ashabul ukhdud. Dalam kisah ini, orang mukmin dibunuh dan cerita berakhir dengan begitu. Tidak jelas rajanya beriman atau tidak. Open ending.

Sayyid Quthb mengatakan dalam Fi Dzilalil Qur’an, bahwa cerita ini diceritakan Allah swt. dalam Al Qur’an diantara semua cerita tentang tokoh-tokoh kebenaran yang semuanya berakhir bahagia, agar orang-orang beiman mempunyai satu teladan. Bahwa sering kali pengorbanan itu berakhir saat umur mereka berakhir. Dan mereka tidak menyaksikannya sama sekali. Bahkan tidak juga untuk dievaluasi.

Hakikat memperjuangkan kebenaran adalah, kata Imam Ahmad bin Hambal, selama hati kita bersama kebenaran. Makna lain dari pengorbanan ini, tidak penting bagi kita menang atau kalah. Yang penting adalah supremasi kebenaran ketika kita kalah dan ketika kita menang, adalah sama.

Dan apa yang kita korbankan dalam semua proses itu. Apa kontribusi pengorbanan kita untuk proses kebenaran ? Itulah yang harus kita tanyakan berulang-ulang pada diri sendiri. Tapi kadang-kadang, kita memilih jalan yang semu. Kita lebih memilih untuk tidak berkorban dan menyimpan sesuatu demi rasa aman. Tapi sesungguhnya, bukan hal tersebut yang menjadikan rasa aman itu ada. Rasa aman itu justru lahir dan menjadi ada, ketika kita berani mengorbankan sesuatu untuk keyakinan kita.

Syahadat, Keutamaan Yang Utama

Ada banyak hadits yang mengungkap bahwa syahadat itu adalah bagian terpenting dalam kehidupan di dunia. Misalnya saja, hadits nabi yang berbunyi,”Barangsiapa yang mengucapkan La ilaaha illa Allah, ia akan masuk surga.” Tapi tentu saja, syahadat yang diyakini dan dijalankan semua konsekuensinya.

Hadits yang lain. Rasulullah pernah bercerita tentang doa Nabi Musa kepada Allah. ”Wahai Tuhanku, ajarilah aku sesuatu yang dengan sesuatu itu aku akan selalu menyebut dan berdoa atas nama Mu.” Kemudian Allah berfirman, agar Musa mengatakan La ilaaha illa Allah.

Lalu Musa mengatakan, kalau kalimat yang satu itu, saya sudah tahu. Lalu Allah berfirman lagi,”Kalau saja seluruh lapisan langit dengan segala isinya, seluruh lapisan bumi dengan segala isinya disimpan dalam satu timbangan. Dibandingkan dengan kalimat La ilaaha illa Allah, maka kalimat ini lebih berat timbangannya.”

Dalam hadits lain juga disebutkan,”Kalimat yang afdhal yang pernah aku ucapkan dan juga diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku adalah La ilaaha illa Allah.”

Ada seorang sahabat nabi yang sangat akrab, Muadz bin Jabal yang sedang dibonceng oleh nabi saat naik seekor unta. Lalu Rasulullah bertanya kepada Muadz,”Wahai Muadz, tahukah kamu hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah ?”

”Allah dan RasulNya yang lebih tahu,” jawab Muadz.

”Hak Allah atas hamba, manusia tidak menyekutukan Allah dan manusia menyembah Allah. Dan hak hamba atas Allah adalah, Allah tidak akan menyiksa manusia yang tidak menyekutukan Nya,” sabda Rasulullah saw.

Lalu Muadz izin kepada Rasulullah saw, apakah hal ini boleh disampaikan kepada sahabat yang lain. Tapi Rasulullah saw menahannya, agar jangan memberitahu. Sebab dikhawatirkan akan memunculkan pemahaman yang salah dari rasa malas yang ada dalam diri manusia. Tapi di kemudian hari, Muadz bin Jabal mengabarkan juga hadits ini menjelang akhir hayatnya. Sebab ini adalah amanah ilmu yang harus disampaikannya.

Sebagai penutup, ada cerita tentang seorang hamba yang pernah mengatakan syahadat dalam hatinya. Sebuah cerita dari hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah tentang manusia terakhir yang akan masuk surga.

Di akhirat kelak, ada yang disebut dengan syafaat yang diberikan Rasulullah saw atas izin Allah. Atas izin Allah, Rasul meminta Allah mengeluarkan seluruh manusia yang ada di dalam neraka yang di dalam hati mereka ada secercah keimanan, meski sedikit.

Lalu Allah memerintahkan para malaikat penjaga neraka agar mengeluarkan orang-orang dari dalam neraka yang di dalam hatinya ada keimanan, meski hanya seberat dzarrah, atom. Atau setengahnya, atau seperempatnya, atau lebih kurang dari itu. Hingga tinggal satu orang yang di dalamnya dan berdoa kepada Allah,”Ya Allah, keluarkan aku dari api neraka.”

Lalu Allah bertanya, apakah setelah dikeluarkan dia tidak meminta apa-apa lagi ?

”Cukup ya Allah, keluarkan saja,” ujar sang hamba. Tapi saat telah dikeluarkan, wajahnya masih menatap kedahsyatan siksa api neraka, sehingga ia berdoa lagi agar Allah memalingkan wajahnya dari api neraka.

Setelah Allah memalingkan wajahnya dari neraka, dan sang hamba berjanji tidak meminta sesuatu lagi, kini sang hamba melihat pintu surga di kejauhan.

”Ya Allah, dekatkan aku ke pintu surga Mu,” doanya lagi. Lalu Allah bertanya, apakah setelah ini ia tidak akan meminta lagi, dan sang hamba menyanggupi. Tapi rupanya, setelah dekat, ia tak tahan untuk meminta agar Allah memasukkannya ke dalam surga yang nikmat.

Akhirnya sang hamba pun dimasukkan ke dalam surga. Ia diberi nikmat yang paling kecil. Paling sederhana. Dan diberilah dia lahan yang paling sempit. Dan lahan yang paling sempit itu adalah sama luasnya dengan sebuah negeri yang paling luas yang pernah ada di muka bumi.

Lalu sang hamba mengucapkan doa syukurnya. ”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku kenikmatan. Tidak ada orang lain yang sehebat aku anugerah Nya.”

Sungguh, padahal ia menerima yang paling kecil dan paling sederhana. Dan kita, hari ini punya kesempatan untuk meraih yang lebih besar, bahkan yang paling besar, dengan cara menyelami makna syahadat dengan sebenar-benarnya makna.

Syahadat Hakikat Dakwah Rasul Allah

Syahadat atau tauhid sebenarnya adalah inti dari dakwah semua nabi dan Rasul Allah. Akidah semua nabi pada hakikatnya adalah sama. Dari Adam, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad saw, mereka membawa tauhid yang sama, meski dengan syariat yang berbeda. Apa yang syirik di zaman Nabi Musa, syirik juga di zaman Nabi Muhammad saw. Apa yang bathil di zaman Nabi Isa, bathil juga di masa Nabi Muhammad saw. Tidak ada perbedaan. Tapi ketika berbicara syariat, syariat yang paling sempurna adalah syariat yang dibawa oleh Rasulullah, Muhammad saw.

Tapi problemnya, manusia itu memiliki kekurangan yang secara fundamental inheren di dalam diri mereka. Pertama, manusia itu perlu dirangsang untuk mencari kebenaran. Kedua, mereka harus mengalahkan rasa malas dalam diri mereka sendiri ketika berada dalam proses pencarian kebenaran itu.

Ada sebagian orang yang memang punya sifat dasar pencari kebenaran. Seperti Salman Al Farisi contohnya. Ia pernah menjadi majusi, penyembah api. Ia pernah jadi Yahudi, juga Nasrani, sebelum akhirnya bertemu dengan kebenaran sempurna dalam Islam. Petualangannya mencari kebenaran berakhir ketika bertemu dengan Rasulullah saw. Karena itu, Rasulullah saw menggelari Salman Al Farisi dengan julukan Sang Pencari Kebenaran. Tapi jumlah manusia seperti Salman Al Farisi ini sangat kecil dan sedikit.